Sudah dua bulan lamanya, kebakaran hutan dan lahan masih melanda Pulau Kalimantan,(11/10/2026).
Kebakaran tidak hanya terpusat di satu titik, namun menyebar di banyak lokasi. Di Kalimantan Selatan, titik api dilaporkan berada di luar Kota Banjarmasin dan meluas hingga ke wilayah Kalimantan Tengah dan Pontianak, Kalimantan Barat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan warga lokal. Kepulan asap tebal akibat karhutla bahkan dilaporkan telah menyeberang hingga ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura.
Hingga saat ini, penanganan di lapangan masih mengandalkan petugas dari unsur masyarakat. Warga menyebut ada kemungkinan korban jiwa dalam peristiwa ini.
Di sisi lain, tanggapan pemerintah dinilai masih minim. Bahkan, warga menyebut adanya pernyataan dari kepala daerah yang menyebut kondisi aman dan tidak seperti yang disebarkan di media sosial.
Kini, masyarakat berharap ada tindakan tegas untuk menghentikan praktik pembakaran hutan yang disengaja, yang diduga berkaitan dengan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit.
Dari Kalimantan, tim liputan melaporkan.
Kalimantan Masih Terbakar, Asap Disebut Sampai Malaysia dan Singapura*
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan belum padam selama dua bulan terakhir.
Berdasarkan keterangan warga, titik api tersebar di banyak lokasi, terutama di luar Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, serta meluas ke Kalimantan Tengah dan Pontianak.
Karhutla ini menimbulkan kabut asap tebal yang dampaknya dirasakan lintas wilayah, bahkan disebut telah sampai ke Malaysia dan Singapura.
Proses pemadaman di lapangan masih dilakukan oleh petugas dengan bantuan masyarakat setempat. Sementara itu, warga menyebut adanya kemungkinan korban jiwa akibat kebakaran ini.
Terkait respons pemerintah, warga menilai penanganan masih terkesan biasa saja. Bahkan beredar pernyataan dari Gubernur yang menyebut situasi aman dan tidak seperti yang dinarasikan di media sosial.
Masyarakat pun mendesak pemerintah untuk segera menghentikan praktik pembakaran hutan secara sengaja yang diduga untuk pembukaan lahan sawit.
Redaksi

0 Komentar